Rabu, 21 Oktober 2020

Tanda-tanda Orang Meninggal Su'ul Khotimah, Ini Bedanya dengan Husnul Khotimah

 

Suul khotimah adalah kebalikan dari husnul khotimah.


Secara harfiah, suul khotimah artinya akhir hidup yang jelek.

Maksudnya, seseorang yang meninggal dunia dalam keadaan tidak baik keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT.



Contohnya, seseorang yang awalnya baik, tetapi di akhir kehidupannya ia melakukan keburukan dan kemaksiatan serta kedurhakaan hingga maut menjemputnya.


Bila seseorang suul khotimah di akhir hayatnya, kebaikannya akan terhapus.


Penyebab dan tanda-tanda orang meninggal suul khatimah


Orang meninggal dalam kondisi suul khotimah tentu saja ada penyebabnya.

Dalam Islam, ada beberapa penyebab dan tanda-tanda orang meninggal suul khotimah, seperti dilansir Bangkapos.com dari sejumlah sumber berikut ini.

1. Akidahnya rusak


Akidah dalam istilah Islam berarti iman.


Semua sistem kepercayaan atau keyakinan bisa dianggap sebagai salah satu akidah.


Fondasi akidah Islam didasarkan pada Alquran dan hadits.


Menjaga akidah sangat penting dalam ajaran agama Islam.


Allah SWT berfirman:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ


Artinya, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam” (QS. Ali Imran: 102).

Pada penggalan akhir ayat tersebut (wa lâ tamûtunna illâ wa antum muslimûn) Allah memerintahkan kepada kita agar mati dalam keadaan beragama Islam.


Manusia sendiri tidak akan mampu menjadikan dirinya tetap dalam agama Islam karena pada hakikatnya husnul khatimah ataupun suul khotimah (baik atau buruknya akhir hidup manusia) adalah kuasa Allah subhanahu wata’ala.


Oleh karenanya Allah memberikan jalan kepada manusia sebagai ikhtiar memperoleh predikat mati husnul khotimah.


Dalam kitab karya Syekh Abdullah bin Alawi al-Haddad dalam karyanya, Nashaihu Ad-Diniyah, dijelaskan beberapa hal yang sering menjadi sebab seseorang meninggal dunia dengan keburukan atau suul khotimah. Beliau berkata:

“Ketahuilah bahwa kebanyakan su’ul khatimah adalah bagi orang-orang yang meremehkan shalat fardhu dan kewajiban zakat, mencari-cari aib Muslimin yang lain, mengurangi takaran dan timbangan, orang-orang yang menipu Muslim dan menutupi atas mereka dalam masalah agama dan dunia, menganggap bohong pada kekasih-kekasih Allah dan mengingkarinya, mengaku dirinya berada pada derajat kewalian (kekasih Allah) tanpa adanya pembenaran, dan sebagainya,” (Syekh Abdullah bin Alawi al-Haddad, Nashaihu Ad-Diniyah, Haramain, hal. 7).


Seorang muslim yang meninggal dalam kondisi tidak beriman, maka ia akan mendapatkan suul khotimah.


Orang yang zuhud dan soleh sekalipun tetapi akidahnya melenceng dari tuntutan Alquran dan Hadist bisa jadi tidak mendapatkan titel husnul khotimah.


Oleh karena itu setiap orang muslim harus teguh berislam hingga akhir hayat. Seruan tersebut dimulai dengan perintah agar mereka bertakwa semaksimal mungkin.


Lemahnya iman seseorang dapat melemahnya juga kecintaannya kepada Allah Swt., malah semakin cinta dirinya kepada dunia.


2. Terus menerus melakukan dosa besar dan banyak maksiat


Muslim harus terus berbuat baik dan menjaga imannya agar bisa meninggal dengan cara yang diridhai Allah SWT.


Imam Asy-Syathibi dalam Al-I’tisham (1:169-170), ‘Abdul Haqq Al-Isybili rahimahullah berkata, “Sesungguhnya su’ul khatimah (akhir hidup yang jelek) tidak mungkin menimpa orang yang secara lahir dan batin baik dalam agamanya. Tidak pernah didengar dan diketahui orang seperti itu punya akhir hidup yang jelek. Walhamdulillah. Akhir hidup yang jelek itu ada bagi orang yang rusak dalam akidahnya, terus menerus melakukan dosa besar atau menganggap remeh dosa. Begitu pula su’ul khatimah bisa terjadi pada orang yang asalnya berada di atas sunnah (ajaran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam) lantas keadaannya melenceng jauh dari jalan tersebut. Inilah amalan yang menyebabkan akhir hidup seseorang itu jelek. Kita berlindung kepada Allah dari yang demikian.”Apapun yang sering dilakukan seseorang dalam kehidupannya maka kebiasaan itu akan melekat dalam hatinya, begitu pula kemaksiatan.


Semakin banyak maksiat yang diperbuat, maka akan muncul dan terulang pula memori itu saat ia meninggal.


Sebaliknya, jika seseorang selama hidup di dunia cenderung melakukan ketaatan dan hal-hal baik, maka hal yang paling banyak hadir saat dirinya sakaratul maut adalah memori ketaatan.


Ust. Amir As-Soronji menjelaskan bahwa jika seseorang sering membaca Al-Qur’an, hadir dalam kajian, mengerjakan shalat wajib dan sunah, rajin berpuasa, bersedekah, dan amalan lainnya, maka kecondongannya itu akan terbayang atau terlihat ketika ia meninggal.


Sebaliknya ketika maut hendak menjelang namun dirinya belum bertaubat, maka syahwat dan maksiat akan menguasainya hingga hatinya terikat padanya.


Kedua hal tersebut akan menghalangi dirinya dengan Rabbnya dan akan menyebabkan kesengsaraan di akhir hayatnya.


Adapun orang yang tidak maksiat atau hendak maksiat namun segera taubat maka dirinya akan dijauhi dari kondisi su’ul khotimah, melainkan Insya Allah diberikan husnul khotimah.


Hal ini merupakan pertolongan dari Allah Swt. Maka hendaklah kita terus melakukan ajaran-Nya dan meninggalkan segala bentuk larangan-Nya.


Iman yang lemah dapat mendominasi hatinya dan tidak ada celah untuk cinta kepada Allah kecuali sedikit bisikan jiwa, maka ia akan terdorong melakukan maksiat.


Banyaknya dosa dapat menyebabkan cahaya iman di hati seseorang padam. Sehingga ketika sakaratul maut datang, ia akan dibayangkan kebingungan dan rasa khawatir dalam dirinya bahwa Allah Swt. akan murka dan tidak cinta padanya. Dalam kondisi seperti ini, ia akan mendapatkan su’ul khotimah.


Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Sesungguhnya dosa, maksiat, dan syahwat adalah sebab yang dapat menggelincirkan manusia saat kematiaannya, ditambah lagi dengan godaan setan. Jika maksiat dan godaan setan terkumpul, ditambah lagi dengan lemahnya iman, maka sungguh amat mudah berada dalam su’ul khatimah (akhir hidup yang jelek).” (Al-Bidayah wa An-Nihayah, Ibnu Katsir, 9:184)

3. Meremehkan kewajiban shalat


Pentingnya menjaga shalat lima waktu untuk menghindari seorang muslim dari mati dalam keadaan suul khotimah.


“Maka celakalah bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya,” (QS. Al-Ma’un [107]: 4-5).


4. Lalai membayar zakat


“Katakanlah bahwa ‘Aku (Nabi Muhammad) hanyalah seorang manusia seperti kalian, diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kalian adalah Tuhan yang Maha-Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan celaka besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya, (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat,” (QS Fushilat[41]: 6-7).

Dosen Fakultas Agama Islam UNU Surakarta, Jaenuri menjelaskan, pada ayat tersebut di atas terdapat kata “wail” yang artinya celakalah.


Ini menunjukkan bahwa siapa saja yang dengan sadar meremehkan atau bahkan meninggalkan salat dan zakat baginya adalah kerugian. Dan kerugian bagi seorang muslim adalah ketika mendapatkan siksaan dari Allah subhanahu wata’ala.


5. Berteman dengan orang tidak baik


Ulama tabi’in, Mujahid rahimahullah berkata, “Barangsiapa mati, maka akan datang di hadapan dirinya orang yang satu majelis (setipe) dengannya. Jika ia biasa duduk di majelis yang selalu menghabiskan waktu dalam kesia-siaan, maka itulah yang akan menjadi teman dia tatkala sakratul maut. Sebaliknya jika di kehidupannya ia selalu duduk bersama ahli dzikir (yang senantiasa mengingat Allah), maka itulah yang menjadi teman yang akan menemaninya saat sakratul maut.” (At-Tadzkirah, Al-Qurthubi, Maktabah Asy-Syamilah, 1:38)


6. Suka mencari-cari aib kaum muslimin lainnya


Islam tidak mengajarkan bahkan melarang umat muslim mencari-cari aib orang lain, apalagi aib sesama muslim.


Larangan ini terdapat dalam firman Allah subhanahu wata’la.


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلا تَجَسَّسُوا وَلا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ (١٢)


“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha-Penerima tobat lagi Maha-Penyayang,” (QS. Al-Hujarat[49]: 12).


Share:

0 komentar:

Posting Komentar